Morocco; Indonesian Independence Day

1:42 PM


Indonesia is one of the first countries that acknowledged the independence of Morocco. That's why the King named one of the street in Rabat after Soekarno (Indonesia's founding father) and back in Jakarta there's a street that is named after Morocco's famous city; Casablanca. 

Kesimpulannya, Maroko dan Indonesia itu bro-an, gituh.

(The following post will be written in Indonesian, as I believe most of the international readers will not understand some terms such as "anaknya sule" or "masyur permai". Feeling confused already? Yep, I hope the pictures will help! 😂)



Saya berencana untuk merayakan 17 Agustus di kedutaan Indonesia di Rabat. Nami, satu-satunya teman Indonesia saya di gelombang ini juga setuju. "Asik makan makanan Indonesia gratis!" adalah salah satu motivasi kami -- disamping tentunya kepo pingin liat 17 Agustus di negara lain. Hehe.

Modal kebaya encim dan rasa patriotisme tinggi, berangkatlah kami dari Meknes ke Rabat dengan kereta. Terima kasih saya panjatkan kepada Google Maps, karena kami dengan gampangnya sampai di KBRI bermodalkan tunjuk kanan-kiri ke supir taksi. 

Ada seorang bapak Maroko di depan KBRI. Saya menyapa: "Excuse me, sir, is this the Indonesian embassy?"
"Ya? Ada apa? Mau cari siapa?"
*Tertegun karena ternyata bapak ini bisa bahasa Indonesia* "Uhh...Mau masuk ke dalam ketemu Pak Putu"
"Oh iya! Silahkan masuk! Saya kerja disini, saya bisa bahasa Indonesia!" si Bapak Maroko ini nyengir dan mempersilahkan saya dan Nami masuk.
Nami dan saya cengegesan sendiri. Ada yang ngomong bahasa kita, Nam!

KBRI Indonesia di Rabat bisa dibilang "sepercik rumah jauh dari rumah". Gimana enggak, semua dekorasi bisa dibilang diimpor langsung dari Indonesia. Ada gamelan, ada kerajinan tradisional, ada bendera Indonesia, dan bahkan orang Maroko yang kerja disana berbahasa ibu. :))

Nami dan saya tinggal di wisma dan berkenalan dengan pak dan bu Dubes, serta Bli-bli dan mbak yang juga tinggal di Wisma. Hari itu mereka sedang sibuk menyiapkan nasi tumpeng & lauk untuk besok. Kami banyak ngobrol dengan Bli Putu dan Bli Ketut tentang bagaimana rasanya tinggal di Maroko. Seru sekali!

Upacara keesokan harinya juga gak kalah seru. Upacara bendera di negara asing itu sensasinya beda. *oke mungkin ini saya aja* Rasanya bangga ceu. Lirik kanan lirik kiri, hampir semua pemuda pemudi bangga berdiri dibawah matahari Maroko yang panasnya ebusetdah dengan pakaian Indonesia. Kebaya, batik, peci. Ah! Bangga sekali merantau dan teringat rumah.



Bersama Bapak dan Ibu Duta Besar Indonesia! :))

Saya masih ingat saat lagu "Tanah Air" dinyanyikan, rasanya lirik "Walaupun banyak negeri kujalani, yang masyur permai dikata orang, tetapi kampung dan rumahku, tak akan hilang dari kalbu" meresap dalam. It kicked me right there, in Morocco. 

Nami, Firdha (Anak AIESEC dari gelombang lain) dan saya menghabiskan sisa hari itu dengan makan nasi kuning dan bakso free flow, suguhan KBRI. Ya Tuhan, rasanya senang sekali dapet makan gratisan makanan Indonesia. Ngobrol juga dengan banyak pemuda pemudi Permias Maroko dan saling sharing pengalaman menjelajah Maroko. 
Makan siang... wait for it

Makan sore (tipikal arisan, makan pagi-malem dijamu) 😂😂


Bersama teman-teman Permias Maroko

Kebanyakan mahasiswa Indonesia yang belajar di Maroko mengambil studi Islam, atau kerja disini, tersebar di berbagai universitas. 

Ngobrol dengan para Bapak-bapak KBRI "Oh, makanan terenak itu sate di pinggir jalan tol disini. Mantep!", dan juga dengan Bapak dan Ibu Dubes. "Kalian nanti kerja di Kemenlu aja, atau jadi dubes!" "Waduh, saya anak desain bu. Gabisa belok jurusan, nanti cari suami orang dubes aja" "NAHHH itu dia! Boleh banget!" Kata Bu Dubes sambil tertawa. "Nanti jadi kayak saya, seru looooh" Kemudian beliau memberikan banyak wejangan terkait kedidupan nanti kalau sudah menikah. Saya, Nami, dan Firdha senggol-senggolan sambil menyeruput teh sariwangi.

Suasana di KBRI terasa seperti rumah. Para tamu duduk lesehan, makan dengan tangan (YAZ), dan yang tak kalah penting.... karaoke lagu dangdut. Fix, ini adalah identitas kita sebagai orang Asia: doyan karaoke.
Selagi duduk di rumput ngobrol-ngobrol, terdengar lagu kopi dangdut diputar di kejauhan. Terkadang lagu galau Dewa, atau lagu anaknya Sule :))

Hari sudah semakin malam, setelah ganti sepatu hak ke sepatu jalan, makan banyak donat dan bungkus bakwan untuk teman-teman di apartemen (ck ck ck mahasiswa dasar) kami berpamitan dan diantar pulang ke stasiun oleh Bli Ketut. Sebelum pulang kami mampir dulu ke satu jalan yang Bli Ketut bilang "Wajib dikunjungi kalau kamu orang Indonesia!" 

Yup, Rue Soekarno.


Bersama Nami si teman seperjalanan sepercurhatan sepergosipankuh 😂



Kurang sempurna apalagi, tanggal 17 Agustus, lagi pake kebaya, foto di Jalan Soekarno. Bli Ketut, lengkap dengan kacamata hitam dan tuxedonya seakan mengawal kami photoshoot didepan papan jalan. Semua orang ngeliatin kita berempat, but hello it's our independence day -- sekali-kali :))

LOLLL
Hari itu rasanya saya menjadi seorang Indonesia seutuhnya. Entah mengapa, kita memang lebih mengapresiasi negara kita sendiri saat kita merantau nun jauh di belahan lain dunia.

/Tasya

You Might Also Like

1 comments

Hits